03 July 2007

Puisi Saduran: Hujan

Ah... aku temukan lagi tulisan ini. Aku pernah menyadur puisi mbak Esthi dari tulisan aslinya dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia :)

-oOo-

Hujan
oleh mbak Esthi

Hujan pagi hari-apa hujan
membutuhkan seseorang
untuk mendengar seksama
suara rintiknya itu? Apa udara
bersyukur atas rasa segarnya itu?

Di dalam diam dan
kesendiriannya, hujan
tidak meminta apapun. Hujan
adalah rintik
di pagi hari itu.

Rancabungur, 11 Januari 2007
jackstar hs

                            

Aku Tidak Mengerti

Ya, begini ini hasilnya kalau aku bikin puisi cinta: "Gombal!" kata mama Ntie mah. Hehe... Dulu itu, sebenarnya, aku tulis puisi ini karena aku terinspirasi oleh puisinya SDD, "... mencintaimu harus menjelma aku." :)

-oOo-

Aku Tidak Mengerti

Aku tidak mengerti tentang
cinta sejuk untuk angin yang selalu
memeluknya.

Aku tidak mengerti
cinta cahaya sayu untuk malam yang selalu
menggenggam jemarinya

Aku tidak mengerti
cinta embun untuk pagi yang selalu
mengajaknya terbang di langit.

Aku hanya mengerti,
aku mengada untuk cinta padamu.

Rancabungur, 26 Desember 2006
jackstar hs

02 July 2007

Hujan Turun

Semalam hujan turun
menghujam bumi
membangkitkan sungai yang penat oleh ulah manusia,
lalu lenyaplah segalanya.

(Aku hanya ingin istirahat sejenak
untuk kemudian membuat halaman
teduh oleh pohon,
agar kau dapat duduk teduh di bawahnya.)

Rancabungur, 2 July 2007
jackstar hs

Puisi: Aku Berkaca Pada ....

Ini puisi lama. Dan "nakal" ;)

-oOo-

Aku Berkaca Pada ....

Aku berkaca pada
pacarku
yang jelita itu. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Aku berkaca pada
wanita
yang pernah beberapa kali aku kencani itu. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Aku berkaca pada
isteriku
yang lembut itu. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Aku berkaca pada
gadis sebelah rumah
yang pernah aku kecup bibirnya
saat anak-isteriku tidak di rumah. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Lalu aku berkaca pada
cermin oval
yang menggantung di dinding kamar itu-Loh!
Ini 'kan Tom Cruise?!

Rancabungur, 31 Desember 2006
jackstar hs

27 January 2007

Tunjukan yang Baik Saja

Tunjukanlah yang haq (baik), maka yang bathil (buruk) akan sirna dengan sendirinya.

Sekarang ini, sebagian besar sinetron menampilkan dua hal berlawan yang ekstrim: baik-jahat, marah-menangis dan sebagainya. Kabarnya mereka (terutama sinetron- sinetron yang menggunakan simbol-simbol keislaman) memiliki tujuan mulia: menyampaikan nilai-nilai moral.

Tapi, apa yang terjadi? Sinetron-sinetron itu menampilkan orang yang berkerudung,  tapi menampilkan juga orang yang berbusana "terbuka"; menampilkan orang yang bersifat baik, tapi menampilkan juga orang yang bersifat buruk luar biasa; menampilkan orang yang bersembahyang (solat), tapi menampilkan pula orang yang berzina. Sinetron-sinetron itu menampilkan dua hal yang ekstrim. Kemudian, di sana ditampilkan bahwa yang "baik" akan menang dan yang "jahat" akan kalah secara ekstrim.

Sinetron-sinetron dengan pola cerita seperti di atas diputar setiap hari, terus- menerus; dan ditonton pula setiap hari, terus-menerus. Apa benar dengan pola cerita seperti ini, misi "menyampaikan nilai moral" itu akan tercapai? Akibat ditonton terus-menerus, maka yang kemudian hadir di dalam benak penonton adalah bahwa setiap hal yang disajikan oleh sinetron-sinetron tersebut akan dianggap hal "biasa". Parahnya, jika yang dianggap "biasa" itu adalah sisi "jahat"-nya. Ini sangat mungkin terjadi, sehingga nilai moral tersebut gagal tersampaikan.

Lalu, bagaimana? Di dalam Islam, kita diajarkan bahwa dengan menunjukan yang haq (benar, baik), maka yang bathil (salah, buruk) akan sirna dengan sendirinya. Nilai moral yang bertujuan untuk membuat sirna yang "jahat" tersebut akan tersampaikan secara efektif dan fokus apabila kita dapat menyajikan sebuah cerita yang di dalamnya memuat unsur-unsur kebaikan (haq) saja. Dengan begini, "nilai moral" tersebut akan sampai pada yang dituju: pelaku-bathil, sehingga dia bisa berangsur-angsur berubah menjadi pelaku-haq.

Saya pikir, sudah saatnya sekarang kita coba membuat karya cerita dengan pola cerita yang menampilkan hanya sisi kebaikan dari kehidupan ini melalui penyajian perilaku, cara berbusana, cara berbicara, cara mengendalikan emosi, suasana, tempat terjadinya suatu peristiwa (setting) dan lain-lain.

Tidak perlu lantas menjadi ekstrim sehingga terlihat naif. Yang seperti ini pernah saya lihat di sebuah sinetron dimana ditampilkan seorang "soleh" yang selalu membacakan hadist-hadist Nabi Saw saat melawan"musuhnya" (peran antagonis).

Sekarang, apakah benar dengan pola cerita begini sebuah cerita/ sinetron menjadi tidak menarik? Ataukah kita hanya belum bisa saja membuatnya?

Rancabungur, 27 Januari 2007
jackstar hs

My Photo

June 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          
Powered by Friendster Blogs